oleh

Tsuyoshi Hirowaka Asal Jepang Kenalkan Mentega Kacang Tembawang Aroma Hutan Borneo

NUSANTARA ZONE – Dalam pantauan Nusantara Zone, sebuah akun facebook warga asal negara Jepang merupakan seorang penggemar mentega Tembawang yang terbuat dari buah tengkawang asal Kalimantan. Ia sangat antusias menyiapkan bungkusan yang dikemas untuk para pemesan mentega kacang asal Borneo.

“Banyak orderan, pagi-pagi telah membungkus aroma kalimantan, mentega kacang Kalimantan
Aroma hutan di Borneo. Sepertinya saya berada di Indonesia”, tulis Tsuyoshi Hirowaka dalam akun media sosial nya.

Tidak sebatas di akun facebooknya, bahkan dalam pantauan redaksi Nusantara Zone, Tsuyoshi Hirowaka sudah mengembangkan promosi berkat hutan Kalimantan, sebuah nilai pesona dari produksi tembawang melalui website dengan situs www.tembawang.com.

“Kami akan memberikan berkah hutan yang kaya. Juga dijual disini”, demikian isi promosi yang ditulis didalam website tersebut.

Menariknya, di Jepang Butter buah Tengkawang dijual secara per gram. Butter hasil sisa peradaban masyarakat Borneo yang memiliki banyak manfaat, baik untuk Rempah, kosmetik, obat-obatan dan sisa produksinya bisa di gunakan untuk pakan ternak dan pupuk.

“Harus ada kontruksi berpikir ulang mengingat kembali semua sesungguhnya kita punya peradaban pangan yang lebih maju dari bangsa lain. Karena Kalah dari Hegemoni global, peninggalan peradaban pangan leluhur dianggap tidak modern, mungkin sebagian sudah musnah karena ditinggal pewarisnya, dimana mereka lebih suka produk yang dianggap lebih modern”, tulis Deman Huri di akun media sosialnya mengenai manfaat tembawang yang sekarang sudah dikenal oleh masyarakat Jepang.

“Lalu siapa yang akan menghargai produk peradaban leluhur, jika kite jangankan akan menghargai, ingin tahu saja pun tidak, apalagi ingin mempertahankannya. Karena dianggap kuno’, sambung Deman Huri yang juga seorang pegiat buah Tengkawang di Kalimantan Barat.

“Braindwashing telah berhasil menghegemoni sebagian penduduk negeri ini, dimana generasi kita telah melupakan peninggalan beberapa peradaban pangan yang pernah jaya di lokal bahkan dunia internasional”, tutupnya.

Bagi yang belum pernah mendengar kata tembawang, dapat diketahui bahwa Tembawang merupakan penyebutan umum yang biasa digunakan masyarakat Dayak di Kalimantan Barat. Istilah ini merujuk pada sebidang lahan beserta tumbuhan di atasnya yang dimiliki oleh suatu komunitas adat.

Meski ada perbedaan penyebutan di beberapa kelompok, seperti kobunt, kampunk temawank, atau kebun kelokak, namun, apapun istilahnya tembawang tetap memiliki arti sebidang lahan yang tanamannya dapat dimanfaatkan secara ekonomi, ekologi, serta adat budaya bagi sekelompok masyarakat.

Inilah biji tengkawang. Foto: Sampan Kalimantan/mongabay

Lokasi tembawang tidak serta-merta dekat permukiman masyarakat. Dalam Buku Palasar Palaya’ Pasaroh terbitan Pemberdayaan Pengelolaan Sumber Daya Alam Kemasyarakat Pancur Kasih 2013, tembawang didefinisikan sebagai lokasi bekas permukiman warga baik perorangan maupun kelompok. Meski begitu, menurut Stephanus Banjing dalam Buku Temawakng Kaloka Suku Dayak Koman, lokasi bekas permukiman yang dapat dikategorikan tembawang adalah jika di areal tersebut terdapat berbagai jenis tanaman dan buah-buahan.

Bagaimana nasib tembawang hari ini? Khairuddin Zacky, dari Perkumpulan Sahabat Masyarakat Pantai (Sampan) menyatakan, nasib tembawang saat ini menghadapi ancaman serius.

“Saat ini, tidak ada optimalisasi peremajaan tanaman sebagai dampak dari keterbatasan penguasaan dan penggunaan teknologi masyarakat.”

Menurut Khairuddin dilansir Mongabay, permasalahan paling mendesak yang dihadapi saat ini adalah belum adanya pengakuan dan perlindungan tembawang dalam bentuk kebijakan daerah. Faktor ini membuat tembawang tergeser dan berubah menjadi investasi berbasis hutan dan lahan,” ujarnya saat rapat dengar pendapat dengan Badan Pertanahan Nasional Provinsi Kalimantan Barat.

Liu Purnomo, Manajer Kampanye Sampan pun menuturkan, berdasarkan identifikasi wilayah dan tutupan hutan tahun 2013 yang dilakukan Sampan di Kabupaten Melawi, dari total wilayah Melawi 10.640,80 km persegi hanya 411,673.40 hektar saja yang memiliki tutupan hutan.

“Bahkan, wilayah hutan tersebut sudah dikapling untuk kegiatan pertambangan, perkebunan sawit, dan perkebunan kayu. Dengan kata lain, perlahan dan pasti, Melawi akan kehilangan tembawang,” ujarnya.

Upaya meningkatkan hasil tembawang agar bernilai ekonomi telah dilakukan.

“Tengkawang, tanaman khas tembawang, yang merupakan bahan baku untuk pembuatan minyak nabati terbaik dibandingkan kelapa sawit, tidak mendapat perhatian serius dari pemerintah setempat,” ujar Hardian Susanto, Pendamping Sampan untuk masyarakat Tembawang Melawi.

Terkait tengkawang, Agustine Lumangkun, peneliti dari Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, menjelaskan bahwa vegetasi tengkawang saat ini telah berkurang 50-70 persen. Padahal, tengkawang memiliki filosofi mendalam bagi masyakat Dayak.

“Semua terjadi akibat deforestasi, termasuk tergusurnya tembawang yang di dalamnya terdapat tanaman bernilai tinggi sebagaimana tengkawang,” ujarnya.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

News Feed