oleh

Si Bung Yang Terlelap

Bung Karno terlelap dan tertidur disamping istri kelimanya yang berasal dari Jepang, Ratna Sari Dewi, di Paris, Prancis pada bulan Juni 1965. Konon ini juga merupakan kunjungan ke luar negeri terakhir Sang Presiden itu, menjelang gegeran peristiwa G 30 S. (Seperti telah tersirat di bulan yang sama – Juni – lima tahun kemudian, Sang Proklamator mangkat dalam sepi dan keterasingan).

Dalam rangka peringatan 10 tahun Konferensi Asia Afrika di Indonesia, diputuskan untuk menyelenggarakan konferensi sejenis yang kedua di Aljazair. Namun pada tanggal 19 Juni 1965, terjadi kudeta di Aljazair. Terjadi pengambil-alihan kekuasaan dari Presiden Ben Bella oleh Kolonel Houari Boumedienne, Panglima Tentara Pembebasan Aljazair.

Paska peristiwa kudeta tersebut, pemimpin baru Aljazair kemudian mengumumkan kabinet dibawah rezim baru Aljazair, Houari Boumedienne. Kondisi kritis kemudian bersambut dengan diterimanya dan diakuinya rezim baru Aljazair itu termasuk oleh Bung Karno dan beberapa pemimpin negara lain.

Mendapatkan jaminan penyelenggaran konferensi tersebut oleh Boumedienne, pada 23 Juni 1965 Bung Karno bersama rombongan akhirnya bertolak ke Aljazair. Ditengah perjalanan, terutama ketika pesawat rombongan presiden tengah singgah di Daka, Bangladesh, tersiar kabar bahwa gedung tempat konferensi mendadak di bom.

Kondisi ini kemudian membuat pemerintah Aljazair menunda penyelenggaraan konferensi tersebut. Ditundanya konferesni ini, Bung Karno dan rombongan akhirnya terbang ke Paris, sebelum kembali ke Jakarta. Sembari bersenang-senang, Bung Karno memanfaatkan kunjungan ini untuk bertemu dengan seluruh duta besar di Eropa.


Artikel : Buku dalih pembunuhan masal

Sumber Foto : Koleksi pribadi Irawan Sumardi cc Kartini Alexander

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

News Feed