oleh

Pesilat Tertua Indonesia Bukti Bahwa Usia Hanyalah Angka

NUSANTARA ZONE – Pesilat Indonesia, Zakaria berusia 90 tahun sambil menendang kaki kanannya tinggi-tinggi ke udara, “Daasshh!” teriak Zakaria, memamerkan keterampilan seni bela dirinya.

Zakaria adalah pesilat tertua di Nusantara dan telah mendapatkan penghargaan rekor dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) Agustus lalu.

“Saya kaget, itu mendadak,” ungkapnya saat mengingat kembali ketika dihubungi oleh MURI.

“Mereka menanyakan hal-hal tertentu kepada saya dan menginginkan bukti agar saya dapat diumumkan sebagai pesilat tertua,” katanya kepada CNA.

Di Indonesia, pencak silat adalah seni bela diri tradisional yang terdapat di berbagai daerah dengan aneka ragam aliran.
Pencak silat juga dikenal sebagai olahraga yang menggunakan seluruh bagian tubuh untuk melakukan gerakan-gerakan menyerang.

Beberapa jenis pencak silat juga menggunakan senjata.

Sebelum kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, pencak silat digunakan di Jakarta oleh para jagoan Betawi untuk membela rakyat jelata dari preman atau tentara penjajah.

Namun, bagi Zakaria, pencak silat lebih dari sekedar mekanisme pertahanan.

“Ini adalah olahraga, jadi baik untuk kesehatanmu. Waktu saya berada di Malaysia, orang-orang terpesona ketika mereka melihat apa yang bisa saya lakukan di usia saya,” katanya dilansir CNA.

“Dengan pencak silat, saya juga mendapat banyak teman. Saya memiliki ribuan siswa,” ungkap Zakaria.

DIPENGARUHI SENI BELA DIRI TIONGHOA

Lahir di Jakarta pada bulan Juni 1930, Zakaria mulai belajar seni bela diri pada usia 15 tahun dari kakeknya Muhammad Djaelani, yang mendirikan perguruan pencak silat Mustika Kwitang pada tahun 1945.

Mustika Kwitang adalah aliran silat Betawi yang dikembangkan di kelurahan Kwitang, Jakarta, di mana Zakaria tinggal.

Aliran ini bisa dibedakan dengan silat Betawi lainnya karena merupakan akulturasi pencak silat lokal yang dipengaruhi oleh seni bela diri Tionghoa.

Pada abad ke-19, kakek dari kakeknya Zakaria bertarung dengan seorang pedagang Tionghoa bernama Kwee Tang Kiam, yang juga merupakan seorang ahli bela diri.

Tidak diketahui siapa yang memenangkan laga tersebut, tetapi setelah duel, Kwee Tang Kiam mengajari sang pesilat Betawi seni bela diri yang dia kuasai.

Diyakini itulah cikal bakal aliran Mustika Kwitang yang kemudian berkembang seiring waktu.

Silat Mustika Kwitang terdiri dari teknik menghindar serta serangan tangan terbuka, tapi Zakaria mengatakan kekuatannya terletak pada pukulan-pukulannya yang kuat.

Nama kelurahan Kwitang di Jakarta pula diduga berasal dari nama Kwee Tang Kiam.

Zakaria mendapatkan penghargaan rekor MURI pada Agustus 2020 sebagai pesilat tertua Indonesia pada usia 90 tahun. (Foto: Kiki Siregar/channelnewsasia)

TAMPIL DI ISTANA PRESIDEN DAN DI SELURUH DUNIA

Pada tahun 1948, untuk kali pertama Indonesia menyelenggarakan pesta olahraga nasional yang dikenal dengan Pekan Olahraga Nasional (PON).

Zakaria berpartisipasi dalam kompetisi tersebut dan menarik perhatian penonton.

“Pada tahun 1950, saya diundang untuk pertama kalinya oleh Presiden Soekarno untuk tampil di istana,” kata Zakaria.

Saat PON kedua digelar tahun 1951, Zakaria bahkan berhasil meraih medali emas.

Pada tahun 1952, kakek Zakaria menginginkannya untuk mengajar dan memimpin perguruan pencak silat Mustika Kwitang.

Beberapa tahun kemudian, dia diundang ke istana lagi, tetapi kali ini untuk mengajar pencak silat kepada pasukan pengawal presiden.

Pada periode tersebut, Zakaria juga menampilkan kemampuannya di depan ahli Shotokan seperti Masatoshi Nakayama dan Donald Draeger.

“Banyak orang asing yang ingin belajar pencak silat,” kata guru silat yang memiliki 14 orang anak, 60 orang cucu, dan 34 orang cicit ini.

Sejak itu pula, Zakaria melakukan perjalanan ke sedikitnya 11 negara untuk mengajar pencak silat, mulai dari negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura hingga negara-negara di Eropa seperti Prancis dan Inggris.

BANYAK MURID DI PENJURU INDONESIA>>>SELENGKAPNYA DI CHANNELNEWSASIA

Artikel Asli

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

News Feed