oleh

Alasan Yang Pro dan Kontra Islam Nusantara!

NUSANTARA ZONE – Beberapa bulan terakhir, umat Islam Indonesia kembali dihadapkan dengan perdebatan wacana Islam Nusantara. Adalah MUI Sumatera Barat beserta MUI se-Kabupaten/Kota di Sumatera Barat yang memicu perdebatan itu muncul kembali.

Peneliti sekaligus Guru Besar Faculty of Policy Studies Chuo University Jepang, Hisanori Kato mengatakan bahwa Islam Nusantara sangat menghormati tradisi-tradisi lokal. Berdasarkan hasil penelitiannya tentang Religion and Locality (agama dan lokalitas), Hisanori menemukan bahwa Islam Nusantara sangat menekankan keaslian agama Islam yang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Hal itu disampaikan Hisanori Kato saat berkunjung ke Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta Pusat beberapa waktu lalu, seperti dilansir NU Online, pada Senin (31/12).

Dalam hasil rapat koordinasi daerah MUI Sesumbar menyatakan bahwa Ranah Minang tidak butuh Islam Nusantara, dengan kata lain MUI Sumbar dengan tegas menolak istilah Islam Nusantara.

“Kami MUI Sumbar dan MUI Kab/Kota se-Sumbar menyatakan tanpa ada keraguan bahwa : Islam Nusantara dalam konsep/pengertian/defenisi apapun tidak dibutuhkan di Ranah Minang (Sumatera Barat),” demikian bunyi pernyataan resmi MUI Sumbar, seperti dikutip langsung di akun Facebook Buya Gusrizal Gazahar (Ketum MUI Sumbar).

“Bagi kami, nama Islam telah sempurna dan tidak perlu ditambah-tambah lagi dengan embel-embel apapun,” tegas pernyataan tersebut.

Tentu saja penolakan hadirnya Islam Nusantara di Sumatera Barat membuat pihak-pihak yang punya andil hadirnya konsep tersebut, murka. Bahkan wakil ketua MUI Pusat, Zainut Tauhid menyebut MUI Sumatera Barat telah menyalahi khittah dan jati diri majelis ulama.

Tidak hanya itu, ketua MUI Pusat, KH Makruf Amin juga menyayangkan adanya penolakan konsep Islam Nusantara oleh MUI Sumatera Barat. Meskipun adanya teguran dari beberapa pihak khususnya MUI Pusat, namun MUI Sumbar tetap dengan pendapat mereka bahwa menolak konsep Islam Nusantara.

Ma’ruf Amin menjelaskan bahwa Islam Nusantara bukan Islam baru, tapi Islam yang sudah berkembang di Nusantara. Islam Nusantara adalah Ahlussunah wal Jamaah, sementara Ahlussunah wal Jamaah adalah Islam Nusantara. “Huwa, huwa (itu-itu juga) hanya ganti cashing (penamaan), isinya sama,” ucapnya.

Islam Nusantara itu sesungguhnya ada tiga domain wilayah yang harus seimbang dijalankan sebagai ciri utama. Tiga aspek tersebut, tambah dia, meliputi aspek pemikiran (fikrah), aspek gerakan (harakah), dan juga aspek perbuatan (amaliyah), sambung Ma’ruf Amin.

“Pada aspek pemikiran Islam Nusantara tidak tekstual dan juga tidak liberal, ia bersifat moderat. Sementara pada aspek gerakan semangat yang dibangun adalah untuk menyebarkan kemaslahatan (ishlahiyyah). Dan adapun pada aspek perbuatan, Islam Nusantara harus tetap melestarikan tradisi yang baik sekaligus mengembangkan serta membuat inovasi yang lebih baik lagi,” jelasnya.

Perdebatan ataupun pro kontra Islam Nusantara sebelumnya sudah pernah hadir pasca konsep Islam Nusantara itu pertama kali diperkenalkan pada Muktamar Nahdlatul Ulama ke-33 di Jombang tahun 2015 lalu.

Secretary General of International Conference of Islamic Sholars (ICIS), KH. Hasyim Muzadi, pada acara penutupan (ICIS) ke-IV di UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang, Rabu (25/11/2015) menolak istilah Islam Nusantara Islam, tapi mengusulkan tetap menggunakan istilah rahmatan lil ‘alamin.

Menurut mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) dilansir SO, Islam rahmatan lil ‘alamin dirujuk karena untuk menghindari konflik antara negara, atau antara regional. Sehingga tidak membatasi Islam dengan sudut geografis ataupun kultural.

“Oleh karena itu kita sebut Islam di Nusantara, bukan Islam Nusantara. Supaya tidak membedakan diri dengan Islam di lain negara,” ujarnya seperti dikutip dari Hidayatullah.com.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

News Feed